T.'s profileDokumentasi T.Djamaluddi...PhotosBlogLists Tools Help

Dokumentasi T.Djamaluddin

Arsip lama bisa juga dibaca di http://media.isnet.org/isnet/Djamal/index.html . Bila ingin kontak, silakan e-mail ke t_djamal(at)bdg(dot)lapan(dot)go(dot)id; t_djamal(at)hotmail(dot)com
May, 2009

Teleskop Antariksa Pencari Planet Luar Tatasurya

DIMANA POSISI TELESKOP KEPLER?

 

(Pada edisi perdana majalah Post Media - Edisi 01/Thn I/Mei 2009 - disajikan berita iptek "Meneropong Kehidupan di Dunia Lain" yang membahas rencana NASA meluncurkan teleskop antariksa Kepler. Teleskop antariksa ini unik, berbeda dengan teleskop antariksa sebelumnya. Post Media mewawancarai saya untuk menjelaskan rencana keberadaan teleskop antariksa Kepler).


Untuk memastikan kebaradaan teleskop ini, Post Media melakukan wawancara dengan Thomas Djamaluddin, ahli astrotromi LAPAN Bandung, berikut hasil wawancaranya.

 

Post Media: Saat selesai diluncurkan, dimana posisi persis teleskop Kepler dalam menjalankan tugasnya?

 

Thomas: Teleskop Kepler ditempatkan pada orbit mengikuti bumi mengitari matahari. Periode orbitrya (372,5 hari) lebih panjang daripada periode orbit bumi (365,2422 hari).  Jadi, semakin lama semakin menjauh dari bumi, tetapi tetap mengorbit pada jarak 150 juta km dari matahari. Setiap tahunnya teleskop Kepler akan tertinggal jauh sekitar 18,5 juta km. Jadi dalam misi 3,5 tahun, kira-kira teleskop Kepler berjarak 60 juta km dari bumi. Orbitnya sengaja dibuat menjauh dari bumi untuk menjamin kestabilan sistem karena tidak akan terganggu gravitasi bumi. Arahnya pun ditujukan ke rasi Lyra dan Cygnus yang tidak terganggu sinar matahari dan objek tatasurya lainnya, sehingga terfokus pada pencarian sistem planet du luar tata surya.

 

Post Media: Berapa kapasitas Teleskop Kepler?

Thomas: Massa teleskop sekitar 1 ton, diameter bukaan teleskop 95 cm, dan diameter cermin 140 cm 9terbesar di antara teleskop antariksa yang ada). Medan pandangya 105 derajat persegi (kira-kira seluas kepalan tangan kalau diarahkan ke langit). Kamera terdiri dari 42 keping CCD 1024 x 2200, juga merupakan kamera teleskop antariksa terbesar. Karena redupnya objek yang direkam, pencitraan perlu waktu sekitar 6 jam atau lebih. Perintah kendali disampaikan NASA dengan gelombang radio (X band) sepekan dua kali. Sedangkan data ilmiah ditransfer dengan gelombang radio Ka band sekali sebulan dengan kecepatan maksimum 4,33 Mb/s. Untuk menghemat bandwidth data sudah diproses di Kepler, sehingga yang dikirim hanya data yang penting untuk dianalisis. Biaya misi ini diperkirakan US$600 juta (sekitar tujuh trilyun rupiah).

 

Post Media: Berapa lifetime Teleskop Kepler:

Thomas: Lifetime opersional teleskop diperkirakan 3,5 tahun. Ini adalah kala hidup optimal, biasanya masih bisa diperpanjang bila fungsi instrumen dan anggaran memungkinkan.

May, 2009

Bumi akan Menjadi Seperti Venus?

Pelajaran bagi Bumi: 

Pemacuan Efek Rumah Kaca di Venus

(Dimuat di PR 3 Mei 1996, direvisi sesuai kondisi 2009)


T. Djamaluddin

Peneliti  Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

 

            Pada senja hari kita sering melihat sebuah "bintang" terang di langit Barat. Orang menyebutnya itu Bintang Kejora. Bila muncul di timur pada dini hari orang menyebutnya Bintang Timur. Sebenarnya itu bukan bintang, tetapi sebuah planet. Karena sangat terangnya, planet ini sangat mudah dikenali. Sesaat setelah Matahari terbenam, sebelum bintang-bintang lain terlihat, planet itu tampak terang. Semakin malam semakin cemerlang. Bila dilihat dengan teleskop, yang tampak adalah benda terang berbentuk sabit, seperti bulan sabit. Sama seperti bulan sabit, cahaya Venus sabit pun berasal dari cahaya Matahari.

            Karena ukuran dan sifatnya yang hampir sama dengan Bumi, planet ini sering disebut saudara kembar Bumi. Namun, saudara Bumi ini jauh lebih panas daripada Bumi. Bukan hanya karena jaraknya ke Matahari lebih dekat daripada Bumi, tetapi juga karena efek rumah kaca (green house effect). Bumi bisa belajar banyak tentang akibat efek rumah kaca pada saudara kembarnya, Venus.

 

Efek Rumah Kaca

            Global warming (pemanasan global) belakangan ini menjadi topik pembicaraan hangat. Dunia makin menghangat suhunya. Penyebabnya adalah efek rumah kaca. Namun banyak yang salah menafsirkanya. Seolah-olah efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat banyaknya gedung-gedung berkaca di kota-kota besar yang memantulkan cahaya Matahari ke lingkungan sekitarnya. Tetapi pengertian sebenarnya bukan itu, walaupun tampaknya secara logika efek pemanasan terjadi juga pada lingkungan terbatas di sekitarnya. Efek rumah kaca bersifat global, seluruh tempat di permukaan bumi merasakannya.

            Efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat terperangkapnya panas yang tidak dapat dilepaskan ke luar angkasa. Penamaan itu untuk memberikan gambaran prosesnya seperti yang terjadi pada rumah kaca yang biasa digunakan untuk melindungi tanaman (bunga-bungaan atau sayur-sayuran) di daerah pegunungan atau negara bermusim dingin agar tetap hangat. Cahaya Matahari masuk menembus kaca dan menghangatkan tanah dan udara di dalamnya. Namun panas itu tidak bisa ke luar karena terperangkap oleh kaca itu. Makin lama suhu di dalam rumah kaca itu akan makin panas.

            Venus kini mengalami efek seperti itu. Bumi juga merasakannya. Bukan kaca yang menyebabkan panas di Venus atau di Bumi itu terperangkap tetapi awan, uap air, dan gas-gas penyerap panas yang disebut "gas rumah kaca" (GRK) seperti CO2 (karbon dioksida), CH4 (metan), CFC (klorofluorkarbon), dan NOx (oksida Nitrogen).

 

 

Planet terpanas

            Venus letaknya lebih dekat ke Matahari daripada Bumi. Jaraknya ke Matahari sekitar 105 juta km. Sedangkan jarak Bumi dari Matahari sekitar 150 juta km. Karena itu Venus lebih panas daripada Bumi. Tetapi yang menjadikan Venus sangat panas bukan karena jaraknya relatif dekat dengan Matahari. Planet Merkurius yang paling dekat dengan Matahari panasnya hanya sekitar 430 derajat C. Sedangkan Venus panasnya mencapai 460 derajat C.

            Carl Sagan dalam desertasi doktornya tahun 1960-an menjelaskan bahwa ada proses efek rumah kaca yang sangat hebat di Venus yang menyebabkan planet ini makin lama makin panas. Hasil pengamatan pesawat antariksa yang dikirim meneliti Venus, Venera dan Pioneer, menunjukkan bahwa atmosfer Venus hampir seluruhnya terdiri dari CO2 (96,5 %). Bandingkan dengan CO2 di atmosfer Bumi yang hanya sekitar 0,05 %. Awan tebal yang selalu menyelimuti Venus berada pada ketinggian 30-60 km dan terdiri dari awan asam sulfat (H2SO4, sejenis dengan air keras pada aki).

            Kandungan CO2 yang sangat tinggi menyebabkan hebatnya efek rumah kaca. Cahaya Matahari yang menerobos sela-sela awan tebal kemudian memanaskan permukaan Venus. Panasnya yang dipantulkan lagi tidak bisa ke luar ke angkasa tetapi segera diserap oleh CO2 yang menyebabkan suhu atmosfernya makin panas.

            Dari berbagai penelitian disimpulkan bahwa Venus pada awalnya mungkin mempunyai air seperti halnya bumi. Efek rumah kaca akibat kandungan uap air dan CO2 menyebabkan suhu atmosfer Venus makin panas. Akibatnya, uap air makin banyak di udara. Tambahan uap air menyebabkan penyerapan panas lebih banyak lagi sehingga suhunya atmosfer makin panas. Karena pemanasan yang makin hebat batuan kapur (CaCO3) pun mengalami perubahan menjadi CaO dan melepaskan CO2. Semakin banyak CO2 dan uap air di udara pemanasan oleh efek rumah kaca semakin hebat. Dan seterusnya pemanasan menyebabkan semakin banyak uap air dan CO2. Terjadilah pemacuan efek rumah kaca (runaway greenhouse effect) yang menyebabkan pemanasan makin cepat.

            Uap air bereaksi dengan gas SO2 yang mungkin dilepaskan oleh gunung berapi di Venus. Akibatnya terjadilah awan asam sulfat. Sementara itu uap air (H2O) dengan pengaruh sinar ultra violet Matahari akan pecah menjadi atom Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Atom Hidrogen akan lepas ke luar angkasa, kecuali yang bermassa besar yang disebut Deutorium. Sedangkan oksigen bereaksi dengan batuan di permukaan Venus. Karena uap air tidak berproses lagi menjadi awan dan hujan, air di Venus makin hilang.

 

Pelajaran bagi Bumi

            Bumi menerima panas dari Matahari. Tetapi hanya sekitar 45 % yang mencapai permukaan Bumi. Sebanyak 40 % dipantulkan lagi ke angkasa luar oleh awan dan debu-debu di atmosfer atas, terutama debu-debu dari letusan gunung berapi. Dan 15 % lainnya diserap oleh atmosfer. Sinar ultra violet diserap oleh lapisan ozon. Sinar infra merah terutama diserap oleh uap air dan CO2.

            Bumi yang terpanasi kemudian akan memancarkan lagi panas (dalam bentuk sinar infra merah) ke atas. Panas itu sebagian diserap oleh uap air, gas-gas GRK (terutama CO2), dan awan. Sebagian sisanya dilepaskan ke luar angkasa. Awan yang menghangat juga kemudian akan memancarkan lagi panasnya ke bawah. Inilah proses efek rumah kaca yang menyebabkan pada malam hari pun atmosfer Bumi terasa masih cukup hangat. Tanpa efek rumah kaca, panas Matahari tidak tersimpan yang bisa mengakibatkan perubahan suhu yang drastis antara siang dan malam.

            Masalahnya bila efek rumah kaca terjadi peningkatan. Bila panas yang diserap oleh uap air dan GRK meningkat, suhu atmosfer akan meningkat. Ini akan mengakibatkan melelehnya gunung es di kutub yang akan menaikkan ketinggian air laut. Kalau itu terjadi, banyak pulau dan daerah pantai yang tenggelam.

            Di samping itu, peningkatan efek rumah kaca bisa mengubah iklim secara global. Bukan hanya suhu atmosfer yang meningkat, pola curah hujan pun akan berubah. Karena itu pemantauan dan penelitian tentang efek rumah kaca serta dampaknya pada perubahan iklim kini makin digiatkan. Di Indonesia, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sangat peduli dengan penelitian GRK dan pengaruhnya pada perubahan iklim. Pemantauan GRK dan penelitian model iklim yang dipengaruhinya, khususnya di Indonesia, merupakan salah satu bagian penelitiannya.

            Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan suhu di permukaan Bumi selama ribuan tahun sangat dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan metan dalam kurun waktu itu. Sementara itu penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan 15% CO2 selama seabad ini telah meningkatkan suhu rata-rata atmosfer di permukaan Bumi sekitar 0,25 - 0,50 derajat C.

            Perkembangan industri dan pemakaian kendaraan bermotor memacu peningkatan jumlah CO2 di atmosfer. Penelitian di Mauna Loa, Hawaii, dalam waktu lebih dari 30 tahun menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 terus mengingkat dengan laju peningkatan 0,4 persen per tahun. Jika keadaan ini terus berlangsung, pada awal abad 21 mendatang konsentrasi CO2 di atmosfer akan menjadi dua kali lipat dari konsentrasinya sebelum zaman industri.

            Di Indonesia peningkatan GRK juga terjadi sebagai hasil dampak perkembangan indistri dan pemakaian kendaraan bermotor. Salah satu hasil pemantauan yang dilakukan LAPAN Bandung sejak 1989 menunjukkan kecenderungan peningkatan konsentrasi CO2 di kota Bandung. baik pada musim kemarau (Juni) maupun musim hujan (Desember). Walaupun pengaruhnya pada peningkatan suhu kota Bandung belum terlihat untuk jangka pendek ini, namun dalam jangka panjang perubahan suhu itu akan terasa. Bandung yang terkenal sejuk, makin lama akan makin panas bila efek rumah kaca terus meningkat (Catatan: tulisan ini dibuat 1996, saat ini data satelit yang dianalisis peneliti LAPAN menunjukkan ada efek "urban heat island", yaitu efek pemanasan kota di Bandung).

            Dari berbagai skenario perubahan iklim yang mungkin terjadi akibat pelepasan GRK oleh aktivitas manusia, disimpulkan bahwa suhu global pada abad mendatang akan naik sekitar 0,1 - 0,3 derajat per dekade. Suhu di negara-negara industri di Eropa dan Amerika Utara mungkin akan meningkat lebih tinggi dari rata-rata itu yang diikuti dengan penurunan curah hujan dan tanah relatif lebih kering.

            Untuk Indonesia, termasuk juga daerah tropik dan negara-negara di belahan Bumi selatan, belum banyak diketahui skenario perubahannya. Peneliti-peneliti di LAPAN Bandung, dengan menggunakan model iklim yang ada dan yang akan dikembangkan, berusaha mengetahui skenario perubahan iklim di Indonesia akibat peningkatan efek rumah kaca dan faktor-faktor lainnya. Pengaruh variabilitas Matahari pada perubahan iklim merupakan faktor lain yang turut diperhitungkan.

            Peningkatan suhu global pada abad 21 mendatang, diperkirakan akan meningkatkan tinggi pemukaan air laut sekitar 6 cm per dekade, terutama akibat pengembangan air laut dan pencairan lapisan es di kutub. Menjelang tahun 2030 tinggi air laut rata-rata dunia meningkat sekitar 20 cm dibandingkan saat ini. Di beberapa wilayah mungkin lebih dari itu dan di wilayah lain mungkin kurang dari itu. Namun itu cukup mengkhawatirkan. Dalam jangka panjang beberapa pulau akan hilang dan laut menggenangi daerah pinggiran pantai.

            Hal yang dikhawatirkan adalah terjadinya pemacuan efek rumah kaca di Bumi. Kenaikan suhu atmosfer bukan hanya menaikkan ketinggian air laut, tetapi juga menyebabkan makin cepatnya penguapan dan kekeringan. Uap air di atmosfer merupakan penyerap panas yang baik seperti GRK lainnya. Bila itu ditambah dengan pelepasan CO2 yang tak terkendali dari kendaraan bermotor, industri, dan kebakaran hutan, efek rumah kaca akan dipacu makin cepat. Akibatnya, suhu akan makin cepat meningkat.

            Belajar pada Venus, saudara kembar Bumi, pemacuan efek rumah kaca berdampak sangat hebat. Dengan pemacuan efek rumah kaca, bukan tidak mungkin Bumi kita bisa menjadi seperti Venus.

April, 2009

Gempa-Tsunami 22 Juli 2009?

HOAX: Prediksi Gempa dan Tsunami di Asia Timur

 

T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN

 

Beberapa waktu lalu beredar informasi di milis tentang prakiraan gempa dan tsunami 22 Juli 2009 disertai gambar jalur gerhana matahari total. Isinya antara lain:

I don't know how true this is, but better be informed........ Hello there. I just wanted 2 let you know that please stay away from the beaches all around in the month of July. There is a prediction that there will be another tsunami or earthquake hitting on July 22nd. It is also when there will be sun eclipse. Predicted that it is going 2 be really bad and countries like Malaysia (Sabah & Sarawak), Singapore, Maldives, Australia, Mauritius, Si Lanka, India, Indonesia , Philippines are going 2 be badly hit. Please try and stay away from the beaches in July. Better 2 be safe than sorry. Please pass the word around. Please also pray for all beings.

Berita itu jelas hoax alias bohong. Benar pada 22 Juli 2009 akan terjadi gerhana matahari total yang melintasi Asia Timur dan puncak gerhana terjadi di Samudra Pasifik antara Jepang dan Filipina, tetapi tidak ada dasar untuk prakiraan gempa dan tsunami. Memang ada dugaan kuat efek pasang surut gabungan bulan dan matahari pada saat bulan baru (termasuk saat gerhana matahari) dan saat bulan purnama (termasuk gerhana bulan) dapat memicu terjadinya gempa. Tetapi, belum ada teori dan metode sains yang dapat memprakirakan secara meyakinkan tempat dan waktu terjadinya gempa dan tsunami. Kalau benar di wilayah itu tertumpuk energi yang belum dilepaskan pada gempa-gempa sebelumnya, potensi gempa yang dipicu oleh pasang surut maksimum bulan-matahari tidak perlu menunggu 22 Jul 2009. Setiap bulan baru dan bulan purnama punya potensi untuk memicu pelepasan energi berupa gempa.

April, 2009

Arah Kiblat

Jangan Persulit Diri


Ada surat pembaca di PR yang mempermasalahkan perbedaan arah kiblat yang tercetak di kalender Kanwil Depag Jawa Barat. Saya tanggapi surat pembaca itu. Untuk memberikan penjelasan kasus serupa di banyak tempat, saya tuliskan di blog saya ini.

1. Terkait dengan hal-hal teknis, seperti penentuan arah kiblat, anggota Badan Hisab Rukyat yang ada di Depag, PTA/PA, Ormas Islam, dan instansi teknis atau perguruan tinggi dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat, tidak perlu menunggu harus Depag yang menanggapi. Komunitas hisab rukyat sering berkomunikasi, baik dalam forum formal maupun informal.

2. Perbedaan arah kiblat yang tercetak di kalender Kanwil Depag sebagian disebabkan karena perbedaan masukan koordinat kota (yang berpengaruh pada perbedaan menit) dan sebagian karena salah ketik. Secara umum arah kiblat di wilayah Barat Jawa dan wilayah Selatan Sumatera sekitar 25 derajat dari Barat ke Utara. Perbedaan sekitar 1 derajat atau lebih dipastikan karena salah ketik yang luput dari perhatian saat diperiksa.

3. Dalam perhitungan arah kiblat sangat disarankan untuk menyesuaikan dengan akurasi alat ukurnya. Kebanyakan kompas mempunyai skala terkecil 1 derajat, sehingga kemungkinan kesalahannya plus minus 1 derajat. Dalam kondisi seperti itu, mencantumkan menit tidak disarankan. Bagi yang tidak memahami makna kesalahan dalam pengukuran, perbedaan mencantumkan menit seolah dianggap serius. Apalagi bila didramatisir dengan konversi perbedaan lebih dari sekian ratus kilometer pada jarak sejauh Mekkah.

4. Dalam penentuan arah kiblat kesalahan sampai 1 derajat masih bisa ditolerir mengingat kita sendiri tidak mungkin menjaga sikap tubuh kita benar-benar selalu tepat lurus ke arah kiblat. Arah jamaah shalat tidak akan terlihat berbeda, bila perbedaan antarjamaah hanya beberapa derajat. Sangat mungkin, dalam kondisi shaf yang sangat rapat (seperti sering terjadi di beberapa masjid), posisi bahu kadang agak miring, bahu kanan di depan jamaah sebelah kanan, bahu kiri di belakang jamaah sebelah kiri. Mungkin ada yang berpendapat, yang terpenting arah pandangan mata. Apakah  kita bisa betul-betul menempatkan arah pandangan mata dalam rentang plus minus kurang dari 1 derajat? Peralihan pandangan mata dari satu sudut sajadah ke sudut lainnya, kalau kita mau hitung secara cermat, sudah berarti pergeseran yang sangat besar, sekitar 20 derajat. Islam tidak menyulitkan seperti itu.

5. Jadi, perbedaan arah kiblat yang tidak terlalu signifikan hendaknya tidak terlalu dipermasalahkan. Saya kira perbedaan kurang dari 2 derajat masih dianggap tidak terlalu signifikan. Ibaratnya dua masjid berdampingan yang panjangnya 10 meter, perbedaan di ujungnya sekitar 35 cm. Jamaah di kedua masjid akan tampak tidak berbeda arahnya. Semoga jelas.

April, 2009

Analisis Cuaca

Analisis Kondisi Cuaca Menjelang Jatuhnya Fokker TNI-AU

               Kecelakaan pesawat Fokker TNI-AU Senin, 6 April 2009 diduga kuat karena faktor cuaca. Tetapi cuaca yang bagaimana yang menyebabkan kecelakaan itu, belum ada penjelasan rinci. Dalam kondisi keterbatasan data lokal, analisis cuaca sekitar Bandara Huseinsastranegara dilakukan menggunakan data satelit cuaca merujuk pada data satelit yang diperoleh LAPAN. Data liputan awan diperoleh dari satelit MTSAT. Data curah hujan diperoleh dari data TRMM. Data satelit tersebut sekaligus menunjukkan arah angin sekitar Bandung menjelang kecelakaan.

               Hari Senin, 6 April, sampai pukul 10.00 WIB wilayah Bandung masih relatif cerah. Pukul 11.00 awan mulai bergerak dari arah Timur Laut. Pukul 12.00 awan mulai menutupi wilayah Bandung. Dari data TRMM, wilayah Bandung belum diguyur hujan antara pukul 07.00 – 12.00 WIB. Sesudah pukul 12.00 barulah terjadi hujan lebat di wilayah Bandung, tetapi bersifat sangat lokal. Di wilayah sekitar Huseinsastranegara – Pasteur hujan turun sangat lebat. Hujan sangat deras bersifat sangat lokal dan dalam waktu relatif singkat adalah ciri musim pancaroba dengan awan yang menumpuk tinggi. Pergerakan awan hujan di sekitar Bandung menunjukkan angin bertiup dari arah Timur Laut.

               Dalam kondisi ketiadaan data permukaan, kita harus mencari alternatifnya. Walau tidak seluruh data MTSAT (yang menggambarkan puncak awan) dapat digunakan untuk menentukan kondisi angin permukaan, tetapi gerak awan Cb dari MTSAT dan pergeseran awan hujan yang disimpulkan dari TRMM dapat digunakan untuk menggambarkan angin permukaan. Alasannya:

- Gerak awan rendah (Low-level cloud motion vectors) dapat digunakan untuk memberi gambaran angin permukaan. Lihat penelitian Halpern (1982) http://www.cmos.ca/Ao/articles/v210106.pdf

- Pada awan Cb secara umum gerak dasar awan relatif sama dengan puncak awan, jadi dapat dilakukan pendekatan untuk menggambarkan juga angin permukaan.

- Dalam kaitannya dengan kemungkinan angin yang mengubah arah pesawat, selain dari angin permukaan yang dominan dari Timur laut, ada angin dari awan (downburst) yang turun bersama turunnya hujan. Dari analsis tersebut saya menyimpulkan resultan angin secara dominan arahnya dari Timur Laut. Kecepatan angin tidak dapat disimpulkan dari data gerakan awan dan hujan.

               Berdasarkan arah landasan pada peta Google Earth, pesawat mendarat dari arah Tenggara-Timur. Bila gerakan awan yang menurunkan hujan dan angin dari Timur Laut dan ada efek angin lokal dari atas (downburst) bersamaan dengan hujan deras, sangat mungkin pesawat terdorong ke kiri keluar dari arah seharusnya dan sayap kanan terangkat sehingga menabrak hanggar di sisi kiri landasan.





April, 2009

Matahari mendekat?

TIDAK BENAR APRIL MATAHARI SEMAKIN MENDEKAT

Ada dua teman mengkonfirmasi hal yang sama. Seseorang menyebarkan SMS yang tidak jelas sumbernya. Isinya kira-kira, "Dikabarkan besok terjadi kondisi di mana jarak matahari-bumi semakin dekat. Kemungkinan besar radiasinya dapat merusak kulit, terjadi antara jam 8 - 16. Jangan pakai pakaian hitam, sebab penyerapan energi matahari dapat merusak kulit hanya dalam 5 menit."

Informasi tersebut jelas menyesatkan. Orbit bumi mengitari matahari yang sedikit lonjong menyebabkan bumi mendekat dan menjauh dari matahari secara teratur. Jarak terdekat bumi - matahari (147 juta km) terjadi setiap awal Januari. Dan jarak terjauhnya (152 juta km) terjadi setiap awal Juli. Jadi, bulan April tidak ada fenomena jarak bumi-matahari makin dekat. Dengan demikian informasi lainnya juga tidak benar. Kalau pun bumi berada pada jarak terdekat dengan matahari, radiasinya tidak signifikan variasinya. Jadi tidak ada dampak apa pun.

Mungkin ada yang mengaitkan dengan perasaan lebih panas sekitar Maret-April. Fenomena lebih panasnya suhu udara di sebagian besar kota di Indonesia pada Maret-April, tidak terkait dengan jarak bumi - matahari. Data suhu rata-rata di beberapa kota memang menunjukkan dua puncak sekitar Maret-April dan juga September-Oktober. Hal itu terjadi karena faktor  peralihan angin pada musim pancaroba. Di Indonesia angin Monsun Australia (Juni-Juli-Agustus) yang kering membawa udara dingin dari arah Selatan yang sedang musim dingin, sehingga cenderung saat kemarau relatif lebih sejuk. Demikian juga saat angin Monsun Asia (Desember-Januari-Februari) yang basah membawa udara dingin dari arah Utara yang sedang musim dingin, sehingga musim hujan juga relatif dingin. Saat musim peralihan (Maret-April-Mei dan September-Oktober-November) angin cenderung lemah (kecuali angin lokal saat terjadi puting beliung) dan bersifat lokal, sehingga tidak ada efek pendinginan. Radiasi panas (inframerah) dari permukaan yang terpanasi relatif tidak tersebar. Efek pulau panas perkotaan makin terasa pada musim peralihan ini.



March, 2009

Hujan Es (Q/A)

Hujan Es Turun Saat Pancaroba


Beberapa waktu lalu wartawan "Kontan" mewawancarai saya secara tertulis dan laporannya telah dimuat di "Kontan"(http://www.kontan.co.id/index.php/Epaper) edisi Sabtu, 21 Maret 2009, halaman 22 (Iptek) berjudul "Kawasan Hijau Lenyap, Turun Hujan ES". Berikut tanya jawab seputar hujan es di musim pancaroba yang dieditulang dan dilengkapi, untuk menambah wawasan kita:


Tanya (T) Bagaimana proses terjadinya hujan es? Apa yang menyebabkan terjadinya fenomena ini?

Jawab (J): Hujan es secara ilmiah disebut "hail stone". Terjadinya dari proses updraft (gerakan udara ke atas) pembentukan awan cumulonimbus yang menjulang tinggi seperti jamur. Proses updraft disertai dengan udara basah dari bawah ketika mencapai ketiggian dengan suhu di bawah nol derajat (sekitar ketinggian lebih dari 5.000 m) uap air yang sangat dingin bertemu dengan inti kondensasi pembentuk awam yang kemudian membentuk gumpalan es. Butiran es kemudian jatuh bersamaan dengan hujan lebat yang kadang disertai dengan angin kencang atau puting beliung. Kejadian ini potensial terjadi pada masim pancaroba saat ini karena angin cenderung lemah dan berubah-ubah arah, sehingga pemanasan optimum yang menyebabkan suhu relatif tinggi. Penguapan yang intensif diperkuat dengan kondisi MJO (Madden-Julian Oscilation) yang mengindikasikan konveksi kuat. Akibatnya udara hangat yang mengandung uap air didorong cepat ke atas mencapai daerah yang sangat dingin.


T: Apakah dampak negatif/positif yg disebabkan oleh fenomena in?

J: Dampak negatifnya, tentu saja batu es tersebut dapat merusakkan geneng rumah, kendaraan, dan fasilitas lain, seperti pernah terjadi di Bandung yang merusakkan beberapa rumah dan kaca mobil.


T: Setahu saya, fenomena ini jarang terjadi di Indonesia atau negara-negara tropis lainnya. Benarkah itu?

J: Hujan es (hail stone) dapat terjadi di mana pun, termasuk di daerah tropis selama ada proses updraft yang aktif yang membawa udara basah mencapai daerah dingin yang memungkinkan pembentukan es.


T: Belahan dunia mana saja yang seharusnya sering mengalami hujan es? Kalau di Indonesia, selain Bandung, daerah mana saja yang sudah dan sering mengalami fenomena ini?

J: Fenomena ini di wilayah lain (di luar daerah tropis) biasanya terkait dengan kejadian badai. Tetapi di Indonesia, kecenderungan akhir-akhir ini kejadiannya adalah di daerah yang mengalami pemanasan intens dan lembat disertai dengan ketidakstabilan dinamika atmosfer yang memicu updraft. Fenomena pemanasan kota menjadi salah satu kemungkinan pemicu kejadian hujan es pada masa pancaroba Maret-April-Mei di Bandung dan Jakarta akhir-akhir ini.


T: Dengan adanya hujan es, bagaimana hubungannya dngan perubahan iklim di Indonesia, apakah semakin mengkhawatirkan?

J: Fenomena hujan es adalah fenomena biasa yang biasa terjadi pada masa pancaroba. Fenomena sejenis adalah fenomena puting beliung yang lebih terfokus pada pola sirkulasi udara lokal yang menyebabkan putaran dan embusan angin cepat reaksi dari proses updraft. Hal itu tidak perlu dikhawatirkan, tetapi perlu diwaspadai.


T: Gejala ap saja yang biasany mendahului sebelum terjadinya fenomena in?

J: Fenomena hujan es dan puting beliung adalah fenomena lokal dan prosesnya cepat, sehingga sulit diketahui tanda-tandanya. Gejala pendahuluan kadang tidak disadari. Misalnya, siang yang sangat terik dan lembab. Proses updraft (naiknya udara secara cepat ke atas) tidak tampak, tetapi kita bisa segera melihat adanya awan yang tiba-tiba membumbung tinggi dan gelap karena tebal menjulang tinggi. Pada saat itulah uap air yang didorong cepat naik ke atas dan mencapai titik beku membentuk gumpalan es. Bila beratnya sudah tak tertahan oleh gerak udara, maka batu-batu es berjatuhan disertai dengan hujan deras dan angin.


T: Apakah hujan es ini ada hubungannya dengan pemanasan global?

J: Hujan es saat ini tidak terkait dengan pemanasan global (global warming), kemungkinannya lebih terkait dengan pemanasan lokal, khususnya fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan). Tetapi, untuk masa depan potensi pengaruh pemanasan global semakin kuat. Frekuensi kejadian hujan es di daerah tropis kemungkinan meningkat. Dengan pemanasan global beberapa mekanisme hujan es akan diperkuat, antara lain dasar awan akan semakin rendah, sementara puncak awan semakin tinggi. Akibatnya ketebalan awan akan meningkat , updraft , dan pemompaan Ekman semakin cepat., yang berarti  intensitas hujan es, petir, dan puting beliung akan meningkat.


T: Kalau memang hujan es lebih banyak mengandung kerugian, maka langkah-langkah pencegahan apa yang harus dilakukan?

J: Pencegahannya belum diketahui. Tetapi meminimalisasi pemanasan kota dengan penghijauan diduga dapat mengurangi proses konveksi (pergolakan udara) lokal yang memicu updraft intensif.


T: Batu esnya itu sebenernya layak dikonsumsi tidak Pak?

J: Esnya karena terbuat dari uap yang terkondensasi pada partikel-partikel yang umumnya bersifat polutan udara, tentu tidak layak dikonsumsi.



March, 2009

Asteroid 2009 DD45 Mengancam Bumi

Objek Langit Melintas Dekat Bumi

Awal Maret 2009 bumi didekati asteorid 2009 DD45 yang melintas relatif sangat dekat dalam ukuran astronomi. Pada 2 Maret jaraknya hanya 72.000 km atau hanya 2 kali ketinggian satelit geostasioner yang mengorbit pada ketinggian 36.000 km. Ukurannya relatif kecil, hanya 35 m. Jadi, asteoroid ini tidak membahayakan bumi dan tidak berdampak apa-apa. Hasil analisis orbitnya menunjukkan bahwa asteorid ini orbitnya agak dekat dengan orbit bumi. Jarak rata-rata dari matahari 1,34 SA (satuan astronomi =150 juta km, yaitu jarak rata-rata Bumi-Matahari). Tetapi orbitnya lebih lonjong dari bumi dan menyimpang dari bidang orbit bumi-matahari dengan sudut 13 derajat. Periode orbitnya mengelilingi matahari 571 hari. Persinggahan berikutnya terdekat dengan bumi baru terjadi pada 3 Maret 2067 pada jarak 950.000 km, atau lebih dari 2 kali jarak bumi-bulan yang jaraknya 384.000 km.

Para astronom pengamat asteroid sangat peduli dengan asteroid yang berpotensi mengancam bumi. Asteroid yang mungkin melintas dekat bumi pada jarak kurang dari 0,05 SA (7,5 juta km) digolongkan sebagai asteoroid pengancam bumi. Sampai saat ini (Maret 2009), dari patroli langit telah ditemukan 1.037 asteroid pengancam, salah satunya yang paling dekat jaraknya adalah asteoroid 2009 DD45. Asteroid pengancam bumi belum tentu menabrak bumi dalam waktu dekat, tetapi dalam jangka panjang kemungkinan untuk menabrak bisa terjadi karena konfigurasi orbitnya suatu saat bertemu dengan bumi.

Bumi telah mengalami bencana tumbukan akibat asteorid atau komet. Tumbukan yang paling dahsyat diperkirakan terjadi 65 juta tahun lalu, ketika asteorid besar menumbuk semenanjung Yukatan di Meksiko. Diperkirakan dari tumbukan itu terhambur debu yang sangat banyak melingkupi seluruh bumi dalam waktu lama. Akibatnya, sinar matahari tak dapat menembus dan bumi mengalami musim dingin hebat. Tumbuhan dan binatang sebagian besar punah. Inilah salah satu teori yang menerangkan punahnya dinosaurus.

Bencana tumbukan kedua yang lebih kecil terjadi pada 30 Juni 1908. Waktu itu diduga pecahan komet Encke berukuran 100 m jatuh di Siberia. Akibat tumbukan itu, hutan seluas Jawa Barat rusak dan debu yang terlempat ke atmosfer atas menyebabkan timbulnya "awan" yang mampu memantulkan cahaya matahari sehingga pada waktu senja di London orang masih bisa membaca koran.

February, 2009

Kiamat 2012?

Ramalan Bencana: Meresahkan namun Tak Berdasar


Catatan: Ahad, 22 Februari 2009, SCTV menayangkan acara "Kasak-Kusuk" tentang Kiamat 21 Desember 2012. Ada aspek sains yang diisi wawancara dengan Kapus Sains Antariksa dan Peneliti antariksa dari LAPAN, namun isinya terpenggal dan diambil sisi sensasinya saja tentang potensi dampak aktivitas matahari maksimum 2011 - 2012 dan dampak kepadatan sampah antariksa yang meningkatkan potensi tabrakan satelit. Gambar-gambar ilustrasi cuaca antariksa dan tabrakan satelit dijadikan ilustrasi bencana antariksa. Lalu bagian dominan adalah ramalan Ki Gendeng Pamungkas dan Mama Lorent tentang bencana 2012. Kata Ki Gendeng, akan ada beberapa gunung meletus dan dan beberapa kejadian tsunami dalam waktu satu tahun itu. Mama Lorent mengatakan tidak dapat menerawang melebihi tahun 2012 yang menggiring kesan pemirsa seolah dunia berakhir 2012. Salah seorang anak indigo (dengan ramalannya yang tak kalah bikin resah) ditampilkan dan dikaitkan dengan manusia super yang mungkin akan menggantikan generasi manusia sekarang. Dua ulama yang ditampilkan tampaknya juga hanya diambil bagian komentarnya yang sejalan dengan tema kasak-kusuk: kiamat. Para artis ditampilkan sebagai bumbu dengan beragam komentar khas artis.


Lalu, bagaimana sains memandang ramalan tentang bencana atau kiamat 2012? Sejauh prakiraan saintifik, tidak ada fenomena alam yang mengkhawatirkan. Ramalan bencana yang mengakhawatirkan semacam itu sempat juga beredar menjelang tahun 2005. Bahkan ada ramalan bahwa 5 Mei 2000 (05-05-00) adalah saat terjadinya kiamat. Kini ada juga yang menyebut angka istimewa 21-12-12 sebagai hari kiamat. Terkait dengan ramalan yang meresahkan itu, berikut ini tulisan lama saya menjelang 05-05-00 yang lalu. Sebelumnya saya juga menulis di Republika 9 April 1995, "Astronomi Membantah Astrologi".

======================================================================================================================

Bedakan Astronomi dan Astrologi

 

T. Djamaluddin Peneliti  Antariksa, LAPAN Bandung


            Orang awam kadang tidak bisa membedakan antara astronomi dan astrologi. Secara mudah kadang keduanya difahami sebagai ilmu bintang. Padahal jelas sekali bedanya, terutama dalam hal tafsir atas suatu fenomena langit. Nah, soal tafsir inilah yang sangat rawan dalam menimbulkan keresahan. Orang awam kadang tidak bisa membedakan mana tafsir astrologi dan mana tafsir astronomi.

            Astrologi adalah ilmu yang mempelajari pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan dengan nasib manusia, baik secara individu maupun masyarakat. Sedangkan astronomi adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini. Pokoknya bila fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin tafsir astrologi. Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan bukanlah tafsir astronomi. Kepercayaan itu terkait dengan astrologi.

            Masih ingat geger ramalan bencana 5 Mei 2000 lalu? Fenomena astronomi pengelompokan matahari, bulan, dan lima planet terang pada 5 Mei 2000 telah menghangatkan berita media massa dengan ramalan adanya bencana. Bencana tidak terjadi. Tetapi, ada satu hal penting yang luput dari perhatian awam: berita media massa telah mencampuradukkan fenomena astronomi dengan ramalan astrologi.

            Istilah superkonjungsi tidak dikenal astronomi, tetapi hanya ada dalam terminologi astrologi. Konjungsi dalam pengertian astronomi adalah posisi dua benda langit yang segaris bujur dalam penampakannya di langit. Dalam bahasa hisab, dikenal ijtimak untuk konjungsi bulan dan matahari. Pada saat itu terjadi bulan baru dan mungkin juga terjadi gerhana matahari. Secara astronomi mustahil terjadi konjungsi yang melibatkan lebih dari dua benda langit.

            Namun dalam pengertian astrologi, konjungsi tidak harus segaris bujur. Ada toleransi (disebut "orb") antara 8-9 derajat, mungkin juga lebih. Karenanya pengelompokan dua planet atau lebih dalam sektor geosentik yang sempit sering dianggap konjungsi. Bila melibatkan banyak planet disebut superkonjungsi.

 

Tafsir Astrologi


            Secara astrologi, pengaruh paling kuat benda-benda langit pada kehidupan manusia di bumi adalah pada saat terjadi konjungsi tersebut. Ramalan bencana 5 Mei 2000 akibat superkonjungsi sepenuhnya hasil tafsiran astrologi, bukan astronomi. Ramalan bencana alam atau bencana sosial, dilakukan oleh cabang astrologi yang disebut astrologi duniawi (mundane). Cabang astrologi ini memfokuskan perhatian pada pengaruh benda-benda langit pada kondisi bangsa, partai politik, serta aset-aset tak hidup (bangunan, kendaraan). Astrologi populer yang berkaitan dengan watak seseorang dan ramalan nasibnya (disebut astrologi natal), juga memperhatikan masalah konjungsi tersebut.

            Di Indonesia pada tahun 1995 seorang tokoh paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Ramalan tentang chaos pada tahun 1995 didasarkan pada informasi astrologi bahwa  planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain berita disebutkan Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung selama lima tahun. Menurut data astronomi pernyataan itu tidak benar. Tahun 1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Hanya planet Uranus dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat). Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55'. Dan planet Uranus dan Neptunus berada pada  posisi segaris dengan matahari pada tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16'. Namun nalar astrologi berbeda dari argumentasi astronomi.

            Tahun 1974 John R. Gribbin and Stephen H. Plagemann menerbitkan buku "The Jupiter Effect" yang meramalkan bakal terjadinya bencana pada tahun 1982 akibat berkelompoknya semua planet pada satu sektor yang sama. Memang pada saat itu semua planet dari Merkurius sampai Pluto berkumpul pada sektor dengan rentang 95 derajat, sektor paling sempit selama abad 20. Kemudian sekitar tahun 1997-an Richard Noone mempublikasikan buku "5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster" yang bercerita tentang ramalan bencana pada 5 Mei 2000. Tulisan Noone inilah yang tampaknya mewarnai cerita-cerita di media massa tahun lalu.

            Ramalan astrologi mundane yang paling terkenal adalah karya Nostradamus. Dengan nama asli Michel de Nostradame (1503-1566), Nostradamus yang pernah menjadi dokter istana Raja Perancis Charles IX mempublikasikan bukunya "Les Centuries" pada 1555. Banyak peristiwa besar dikaitkan orang dengan ramalan Nostradamus, seperti perang dunia I dan II serta perang teluk Irak-Kuwait yang diduga bisa memicu perang dunia III.

            Kepanikan massa akibat berita yang menyesatkan tentang segarisnya planet-planet pernah terjadi pada tahun 1962. Pada superkonjungsi 4 Februari 1962 (5 Februari waktu Indonesia) orang-orang berkumpul di Observatorium Griffith (Los Angeles) menunggu informasi apa yang akan terjadi. Mobil berderet hampir satu kilometer. Berita sensasional juga berkembang di Amerika pada tahun 1982. Superkonjungsi 1982 dikabarkan akan menghancurkan pantai barat Amerika dan memusnahkan jutaan orang. Bencana itu tidak terjadi, tetapi sekian banyak orang dibuatnya ketakutan dengan ramalan itu. Bahkan ada yang meminta nasihat astronom perlu tidaknya pindah ke daerah lain. Planetarium Denver menerima 130 telepon dalam lima jam dari orang-orang yang ketakutan.

Pada 1998 ramalan Nostradamus juga sempat merepotkan para astronom di Observatorium Griffith. Setelah penayangan  film "The Man Who Saw Tomorrow" yang bercerita tentang Nostradamus, banyak orang menelpon observatorium menanyakan kapan terjadinya planet-planet segaris yang akan menyebabkan gempa. Ternyata gempa memang tidak terbukti terjadi.

Tafsir astrologi tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, di negara maju sekali pun ramalan-ramalan bencana seperti itu cukup membuat panik banyak orang. Tidak tampaknya dampak sosial di Indonesia terhadap ramalan-ramalan bencana tersebut belum tentu berarti masyarakat telah berfikir rasional, tetapi mungkin karena penyebaran informasinya tidak seluas di negara-negara maju.

 

Tafsir Astronomi


            Superkonjungsi dalam terminologi astronomi lebih tepat disebut pengelompokan planet-planet dalam suatu sektor tertentu. Pengelompokan planet-planet pada 5 Mei 2000 lalu telah dihitung oleh Jean Meeus, pakar matematika astronomi dari Belgia,  yang menuliskannya dalam majalah astronomi Sky and Teleskop (1961). Berkelompoknya matahari, bulan, dan 5 planet utama lainnya (dalam konsep lama semuanya dianggap planet) dalam rentang 100 tahun sebenarnya telah terjadi pada  5 Februari 1962 dan 5 Mei 2000, kemudian akan terjadi lagi pada 9 September 2040.

            Dari segi astronomi, tidak ada hal yang istimewa dengan berkelompoknya planet-planet tersebut.  Mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah bila kejadiannya malam hari. Pengelompokan banyak planet dalam satu wilayah langit yang sempit sangat menarik bagi penggemar astrofotografi. Selain hal itu, sama sekali tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan mekanisme kaitan antara susunan planet tersebut dengan bencana di bumi.

            Ada tiga hal yang perlu dikaji sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi: efek pasang surutnya, radiasinya, dan pancaran partikelnya. Efek pasang surut (pasut) sudah kita kenal akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan surut secara periodik. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang pendek bisa terputus. Pancaran partikel dari matahari berupa angin matahari atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi.

            Adakah tiga hal tersebut terjadi bila planet-planet berkelompok? Efek pasut planet-planet amat sangat kecil dibandingkan dengan efek pasut bulan dan matahari.  Dengan memperhitungkan massa planet dan jaraknya pada suatu waktu, dapat dihitung gaya pasutnya di permukaan bumi. Matahari saja yang sekitar 27 juta kali massa bulan, gaya pasutnya pada 5 Mei 2000 hanya sepertiga gaya pasut bulan. Efek pasut matahari baru terasa pada saat bulan baru atau bulan purnama, ketika gaya pasut bulan dan matahari saling memperkuat yang menyebabkan pasang air laut menjadi lebih tinggi daripada biasanya.

Sedangkan efek pasut planet-planet sangat kecil. Gaya pasut yang terbesar saja dari planet Jupiter, hanya dua-per-sejuta kali gaya pasut bulan. Jadi efek pasut planet-planet tersebut sama sekali tidak berdampak pada bumi.

            Planet-planet pun tidak memancarkan radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang mencapai bumi. Jadi, sama sekali tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya tidak beralasan mengaitkan penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia.

 


February, 2009

Komet Lulin

Kau Datang untuk Pergi
T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sengaja judul saya buat puitis untuk menggambarkan komet Lulin, komet yang ditemukan oleh astronom Ye Quanzhi and Lin Chi-Sheng dari Obsevatorium Lu Lin di Taiwan pada 11 Juli 2007. Kode astronominya adalah C/2007 N3, artinya komet baru (C) yang ditemukan pada tahun 2007 pada tengah-bulanan ke-14 (dalam urutan abjad berarti N, yaitu akhir Juli), pada urutan ke-3. Semula objek tersebut dikira asteroid. Namun dalam pengamatan lanjutan ketika makin mendekati matahari mulai terlihat adanya koma, kepala komet yang terbentuk dari debu dan ion hasil penguapan dan ionisasi inti komet yang terdiri dari debu dan es. Semakin lama ekornya yang pendek mulai tampak dalam pengamatan dengan teleskop.

Hal yang menarik dari komet ini adalah orbitnya. Eksentrisitasnya 1,0002, artinya lengkungan orbitnya berbentuk hiperbola, yang mendekati parabola. Orbit hiperbola pada gerak benda langit dapat digambarkan secara puitis "kau datang untuk pergi", karena ini kedatangan yang pertama dan yang terakhir. Kemungkinan ia datang dari awan Oort yang sangat jauh (sekitar 50.000 Satuan Astronomi-SA, kira-kira 1 tahun cahaya, dari matahari/bumi) dan akan kembali ke dunianya yang amat dingin nu jauh di sana, mungkin juga terus melanglang buana keluar tata surya. Hal menarik kedua tentang orbitnya adalah inklinasinya 178 derajat. Artinya, orbitnya memang mendekati bidang orbit rata-rata planet di tata surya. Karenanya orbitnya tidak jauh dari ekliptika, posisi rasi-rasi yang kita kenal sebagai zodiak. Inklinasi lebih dari 90 derajat, artinya arahnya berkebalikan dari arah gerak planet-planet pada umumnya. Akibatnya, komet ini tampak bergerak relatif cepat di antara bintang-bintang, tidak seperti komet pada umumnya.

Komet Lulin mencapai titik terdekat dengan matahari (disebut perihelion) pada 10 Januari 2009 lalu pada jarak 1,2 SA (182 juta km). Diperkirakan akan melintas bumi pada jarak terdekat 0,41 SA (61 juta km) pada 24 Februari. Karena ini komet baru, sifat-sifatnya belum banyak diketahui, termasuk perkiraan kecerlangannya belum bisa dipastikan jauh-jauh hari sebelumnya. Perkiraan awal, pada saat mendekat bumi, kecerlangannya mencapai sekitar 4 - 5 magnitudo, artinya dapat terlihat dengan mata telanjang, seperti bintang yang agak redup. Tetapi prakiraan terakhir, tampaknya akan mengecewakan para pengamat, karena diprakirakan magnitudonya hanya 6 - 7 magnitodo, artinya di luar kemampuan mata manusia untuk melihat yang batasnya sekitar 6 magnitudo.

Kalau akan mengamat dengan alat bantu (binokuler atau teleskop), posisinya pada malam  23 Februari - 2 Maret berada sekitar rasi Leo. Pada malam 24 Februari posisinya dekat planet Saturnus. Dengan teleskop, komet Lu Lin tampak berwarna kehijauan karena kandungan ion-ionnya. Rasi Leo dan komet Lu Lin mulai tampak di langit timur sekitar pukul 21.00 WIB dan mencapai titik tertinggi sekitar pukul 01.00 dini hari, dan akan terbenam menjelang shubuh. Selanjutnya komet Lu Lin akan makin menjauh dan makin redup, menuju rasi Cancer dan Gemini.

Secara astrologi, dulu dan sekarang, kehadiran komet sering diinterpretasikan dengan naik tahta atau jatuhnya penguasa atau dengan kemungkinan bencana. Kini sudah ada situs yang sudah memuat ramalan astrologi kehadiran komet Lulin ini. Boleh percaya boleh tidak, tetapi secara ilmiah dan landasan keimanan, ramalan itu sama sekali tidak berdasar. Kita ambil yang pasti-pasti saja, kajian astronomi. Secara astronomi, kehadiran komet memang selalu menarik. Dengan mempelajari perilaku ekor kometnya, astronom dapat mempelajari angin matahari. Kemudian dengan mempelajari spektrumnya para astronom dapat mempelajari komposisinya, yang berarti juga mendapatkan informasi tentang komposisi bahan penyusun tata surya. Komet adalah fosil tata surya yang paling asli, yang bisa bercerita tentang asal usul tata surya kita.
 



 
There are no photo albums.

Windows Media Player

T. Djamaluddin

Occupation
Location
Interests
Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah asal Cirebon. Tradisi Jawa mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika berumur 3 tahun, yang digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA lebih suka dengan nama singkat T.Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SDN Kejaksan 1, SMPN 1, dan SMAN 2 Cirebon. Selanjutnya belajar astronomi di ITB (S1) dan di Kyoto University, Jepang (S2 dan S3). Saat ini di LAPAN sebagai Kepala Pusat Sains Atmosfer dan Peneliti Utama Astronomi. Aktif juga di Badan Hisab Rukyat Jabar & Depag RI, mengupayakan penyatuan kriteria hisab-rukyat. Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
Beberapa publikasi/dokumentasi saya yang dapat diakses di internet